Friday, December 22, 2017

Geram akan sikap Donal Trump - Hacker Retas Radio AS dengan Lagu Rap 'F*** Donald Trump.



Kolombia - Gelombang perlawanan terhadap Presiden Donald Trump terus terjadi di seluruh penjuru Amerika Serikat.
Seperti dikutip IB Times, Jumat, 3 Februari 2017, salah satu perlawanan yang cukup fenomenal adalah peretasan terhadap sejumlah radio komunitas di seluruh Amerika Serikat. Hacker, yang belum diketahui identitasnya, membajak radio-radio komunitas kecil dan memutar lagu rap yang mengulang-ulang kalimat, "F**k Donald Trump."

Korban terakhir adalah radio Sunny WFBS di Negara Bagian South Carolina. Pada 30 Januari lalu, lagu ini beredar selama 15 menit. Pihak pengelola radio tak berdaya mengatasi peretasan itu.
“Internet kami diretas sehingga radio kami memutar lagu anti-Trump. Itu bukan siaran kami. Radio WFBS tidak memiliki tujuan politik tertentu,” tulis Frank Patterson, pemimpin radio, dalam akun Facebook-nya. "Ini terjadi di seluruh negeri.”

Menurut kantor berita Associated Press (AP), insiden serupa juga terjadi di stasiun radio di Seattle, Louisville, dan San Angelo, Texas. Dalam kasus berbeda, sebuah video yang berisi lagu tersebut diputar stasiun televisi berbayar di Mooresville, North Carolina. Video ini diyakini milik penyanyi rap YG & Nipsey Hussle dengan judul FDT (F*** Donald Trump)

Gary Simpson, Direktur Program Radio Crescent Hill di Negara Bagian Kentucky, mengatakan insiden ini telah dilaporkan kepada Komisi Federal Komunikasi AS (FCC). Radionya diretas dengan lagu yang sama pada 20 Januari. "Kami meminta maaf kepada pendengar yang mungkin tersinggung,” ujarnya kepada The Courier-Journal

 
AP | COURIER JOURNAL | IB TIMES | SITA PLANASARI AQUADINI

128 Negara anggota PBB menentang keputusan Donald Trump tentang ibukota Yerusalem untuk Israel.



Sebanyak 128 negara menentang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mendukung resolusi Majelis Umum PBB. Mereka mendesak agar Amerika Serikat menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Seperti dilansir dari Antara, dalam pemungutan suara, 128 negara menyatakan dukungan terhadap resolusi, sembilan negara menolak dan 35 lainnya abstain. Sebanyak 21 negara tidak memberikan suaranya.
Ancaman Trump yang akan memutus bantuan keuangan terhadap negara-negara yang mendukung resolusi terlihat memberikan dampak pada hasil pemungutan suara. Pasalnya jumlah negara yang menyatakan abstain dan menolak resolusi lebih banyak dibandingkan dengan yang biasanya terjadi pada saat pemungutan suara digelar atas rancangan resolusi-resolusi yang berkaitan Palestina.
Meskipun demikian, Washington dikucilkan oleh banyak negara Barat dan Arab sekutunya, yang memberikan suara dukungan terhadap resolusi. Beberapa di antara negara sekutu itu, seperti Mesir, Jordania dan Irak, merupakan penerima bantuan militer atau ekonomi dalam jumlah terbesar dari AS.
Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas menggambarkan hasil pemungutan suara itu sebagai 'kemenangan bagi Palestina'.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan kedutaan besarnya ke kota itu. Di mana diketahui, Yerusalem merupakan kota suci bagi Muslim, Yahudi dan Kristen.

"Amerika Serikat akan mengingat hari ini, yaitu saat (AS) diincar di Majelis Umum hanya karena menjalankan hak kami sebagai bangsa berdaulat," kata Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, kepada 193 negara anggota Majelis Umum menjelang pemungutan suara digelar.
"Kami akan mengingat ini, ketika kami diminta lagi menjadi penyumbang terbesar di dunia kepada Perserikatan Bangsa-bangsa, dan begitu banyak negara datang meminta kami, seperti yang mereka kerap lakukan, bahkan untuk memberikan lebih banyak lagi dan menggunakan pengaruh kami bagi kepentingan mereka," katanya.